Belajar Hipnotis : Begitu Doang?

Ungkapan ini sering keluar dari seseorang yang baru saja belajar dan menerima penjabaran tentang apa itu hipnosis dan bagaimana melakukan proses hipnosis kepada orang lain.

Seakan ungkapan seperti itu keluar begitu saja, sebagai pernyataan ketidak-yakinan atas apa yang baru saja dia pelajari.  Bukan satu dua kali ungkapan seperti itu keluar dari seorang pembelajar hipnotis baru.

Mungkin terdengar aneh ketika seseorang diberikan penjelasan dan mengetahui bahwa begitu mudahnya melakukan proses hipnosis kepada orang lain (menghipnotis orang lain), lalu dia berujar, “begitu doang?”

Dan saya akan menjawab, “Ya!  Begitu doang!”

Lantas pergilah si pembelajar itu dengan membawa rasa penasarannya, lantas setelah dia mempraktekkan seperti apa yang telah diajarkan dia kembali dan mengatakan, “Ya….ternyata memang begitu doang ya?!”  Dengan tetap menampakkan wajah yang seakan masih tidak percaya bahwa ternyata dia hanya harus melakukan “Itu doang”.

Hahaha………..ya, begitulah!!

Tetapi, mengapa ungkapan seperti itu seringkali keluar dari orang yang baru belajar hipnotis dan baru saja menerima pemaparan tentang apa itu hipnosis dan bagaimana melakukan proses hipnosis?

Pendapat saya, hal itu mungkin disebabkan oleh pandangan-pandangan yang masih berkembang di masyarakat tentang apa itu hipnotis dan bagaimana orang bisa melakukan proses hipnotis kepada orang lain.  Masih banyak orang yang berpandangan bahwa hipnotis adalah suatu kemampuan supranatural yang dicapai oleh seseorang, dengan pembangkitan kekuatan supranatural melalui urutan-urutan langkah dan tatacara-tatacara yang rumit dan “melelahkan”.   Maka ketika kemudian kepadanya dijabarkan apa itu hipnotis dan bagaimana melakukan proses-prosesnya, keluarlah pernyataan, “Begitu doang?”

Meskipun kalimat yang dilontarkan sangatlah sederhana, tetapi dia mengandung makna yang sangat penting.  Kalimat sederhana itu menggambarkan adanya rasa ragu apakah hanya dengan cara seperti itu dia akan mampu menghipnotis orang lain. Disinilah kemudian saya akan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menjawab keraguannya adalah dengan mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya kepada sebanyak mungkin orang.  Hanya dengan demikian nantinya akan terbukti bahwa ternyata memang hanya begitu doang.

Tidak jarang pula ada pertanyaan lanjutan yang bunyinya, “Nggak pake mantera?”

Menjawab pertanyaan itu saya akan bercanda dan mengatakan, “Ketika anda sudah mempelajari hipnotis dan kemudian anda mempraktekkannya, maka setiap kata yang keluar dari mulut anda adalah mantera.  Setiap gerakan dan sentuhan tangan anda mengandung mantera.  Bahkan tatapan dan isyarat mata anda adalah mantera”.

Mungkin rasa percaya diri anda belum sepenuhnya muncul. Apalagi jika kemudian anda mencoba kepada satu orang dan anda belum menemukan hasil seperti yang anda harapkan.  Percayalah bahwa anda dapat terus mencobanya kepada orang lain dan anda akan menemukan kebenaran dari apa yang diajarkan kepada anda.  Rasa percaya diri anda dapat terus anda tingkatkan, dan pada akhirnya anda akan jauh lebih memahami dan menguasai keilmuan hipnotis ini.

Sama seperti ketika anda mempelajari hal lain yang baru bagi anda, maka keseriusan dalam belajar dan ketekunan dalam berlatih akan semakin menjadikan diri anda lebih memahami dan piawai dalam melakukannya.

Tapi,  …..sekali lagi, benarkah hanya segitu doang?

Tentu saja tidak!   Apa yang telah anda pelajari hanyalah dasar-dasar keilmuan hipnosis.

Sebagai hipnotis pemula, kebanyakan yang diinginkan adalah bisa melakukan “aksi” membuat orang “tidur” seperti yg disaksikan dalam pertunjukkan stage hipnotis.  Tetapi keilmuan hipnosis sesungguhnya  bukanlah sekedar bagaimana membuat orang tidur atau bagaimana kita mampu melakukan seperti yang ditampilkan pada stage hipnotis.  Keilmuan serta manfaat dan pengaplikasian dari keilmuan hipnosis jauh lebih luas dan mencakup berbagai bidang.

Maka ketika target anda belajar hipnosis hanyalah agar bisa “menidurkan” orang lain, yang sesungguhnya hanyalah tingkat paling dasar, maka sayapun akan balik bertanya pada anda, “Segitu doang?”