Ilmu Gendam Kembali Memakan Korban

Sering mendengar tentang orang yang mengaku menjadi korban dari orang lain yang mengamalkan ilmu gendam?

Saya yakin anda sering mendengar kisah-kisah dimana ada orang yang mengaku terkena ilmu gendam hingga dia dengan begitu saja menuruti keinginan si pelaku gendam, menyerahkan harta benda yang dimiliki tanpa bisa mengelak atau berpikir lagi.  Orang tersebut mengaku bahwa dia seakan tidak memiliki kekuasaan atas dirinya lagi dan mengikuti saja apa yang diminta oleh pelaku gendam.

Kisah-kisah seperti ini banyak kita temui dalam pemberitaan-pemberitaan di media massa, bahkan banyak berita yang mengatakan bahwa pelaku gendam cukup menepuk bahu seseorang dan seketika orang tersebut telah berada dalam pengaruh gendam.

Tetapi, terlepas dari benar-salahnya berita dan pemahaman masyarakat tentang gendam dan bagaimana gendam bisa seakan begitu mudah “menaklukkan” korbannya, kali ini saya akan menceritakan tentang korban gendam dalam versi yang lain.

Kali ini lebih hebat lagi. Pelaku gendam yang satu ini justeru berhasil membuat sang “korban” dengan sukarela datang dan menjadikan dirinya sebagai korban gendam.

Lha, kok bisa?

Kisah ini dikisahkan oleh seseorang yang datang untuk mempelajari hipnosis.

Mulanya dia menceritakan bahwa dirinya penasaran dengan keilmuan hipnosis, karena dari apa yang sering dia dengar bahwa hipnotis itu sama saja dengan gendam tetapi beda versi.  Kalau hipnotis itu menggunakan pendekatan ilmiah, sedangkan gendam itu menggunakan mantera-mantera atau mistik.   Rupanya dia termasuk orang yang senang mempelajari hal-hal yang berbau mistik, termasuk gendam.

Singkat cerita, pergilah dia belajar kepada salah satu orang yang (sesuai dengan bunyi iklannya) memiliki ilmu gendam dan membuka pengajaran ilmu gendam.  Di sana dia menerima “pengisian” berupa air mineral yang katanya telah diberi mantera-mantera.  Dia juga diajarkan teknik menggendam orang lain dengan mengajukan lima pertanyaan bertubi-tubi.  Selain itu juga diberikan jimat yang harus selalu dibawa, serta ada pantangan yang tidak boleh dilanggarnya (pantangannya: saat makan, maka tiga suapan pertama cukup makan nasinya saja, lauknya tidak boleh ikut dimakan dulu).

Teknik, jimat, dan informasi tentang pantangan itu semua dia dapatkan setelah membayar mahar beberapa juta rupiah.  Inilah yang kemudian membuatnya kecewa dengan segala hasil yang didapatnya, karena ternyata itu semua tidak lebih dari kebohongan belaka.  Tanpa disadari, dia telah menjadi korban dari ilmu yang ingin dia pelajari sendiri.

Karena itulah kemudian dia penasaran dengan hipnosis.  Dan meskipun telah dijelaskan bahwa hipnosis sama sekali tidak menggunakan mantera, pengisian, ajimat atau pantangan tertentu, dia tetap juga ingin mempelajari hipnosis.  Bahkan kini dia lebih meyakini hipnotis ketimbang gendam (sesuai dengan apa yang telah dia pelajari), karena hipnotis lebih masuk akal baginya (padahal dia mengaku senang mempelajari hal-hal mistik).

Hal yang paling berharga yang bisa kita ambil pelajaran dari pengalaman orang tersebut adalah jangan mudah percaya pada orang-orang yang mengaku “sakti” dan memiliki kemampuan gendam dengan mantera-mantera, pengisian dan jimat-jimat.  Gunakanlah selalu kekuatan pikiran kita, agar kita terhindar dari menjadi korban seperti kisah yang saya ceritakan tadi.

Baca Juga : Gendam Bukan Hipnotis

Semoga kita selalu sehat dan bahagia.