Sulit Bahagia ?

Mengapa banyak orang yang seakan sulit merasakan kebahagiaan, bahkan sekalipun telah banyak hal yang dimiliki?

Atau bisakah kita merasakan kebahagiaan itu dengan lebih mudah dan sederhana ?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita bahas dulu apa saja yang bisa menghalangi seseorang untuk lebih merasakan kebahagiaan, dan bagaimana menghilangkan penghalang kebahagiaan itu.

Apa Itu Kebahagiaan

Hingga saat ini belum ada yang mampu mendefinisikan dengan benar-benar tepat apa itu bahagia dan kebahagiaan. Selain karena bahagia adalah menyangkut sesuatu yang abstrak, yaitu perasaan, setiap orang tentunya memiliki definisi kebahagaiaannya masing-masing. Namun bila kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka kita akan menemukan definisi arti kata “bahagia” sbb :

1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dr segala yg menyusahkan): — dunia akhirat; hidup penuh –;

2 a beruntung; berbahagia: saya betul-betul merasa — krn dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga;
ber·ba·ha·gia a 1 dl keadaan bahagia; bahagia; 2 v menikmati kebahagiaan; bahagia;
mem·ba·ha·gi·a·kan v 1 menjadikan (membuat) bahagia: ia berusaha keras – keluarganya; 2 mendatangkan rasa bahagia: kehadirannya sangat – keluarganya;
ke·ba·ha·gi·a·an n kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yg bersifat lahir batin: kehadiran bayi itu mendatangkan – dl rumah tangganya; saling pengertian antara suami dan istri akan membawa – dl rumah tangganya.

Apa Yang Menghalangi Kebahagiaan

Dari definisi kata bahagia menurut KBBI, terbaca bahwa kebahagiaan adalah lebih kepada soal perasaan. Tidak ada rujukan yang menyatakan bahwa orang akan bahagia jika memiliki ini atau itu, mencapai ini atau itu, dan sebagainya. Bahagia adalah soal rasa. Dan rasa ditimbulkan atas persepsi kita, penerimaan kita terhadap suatu keadaan atau terhadap apa yang ada pada kita. Jadi bukan keadaan ataupun yang ada pada kita itu sendiri, melainkan lebih kepada bagaimana kita menerima keadaan atau yang kita punya tersebut. Dengan demikian maka bahagia menjadi bersifat sangat personal, karena setiap orang memiliki persepsi, sudut pandang dan “syarat” yang harus ada untuk merasakan bahagia.

Hal yang sangat berpengaruh terhadap perasaan seseorang adalah bagaimana dia merespon suatu kondisi atau peristiwa yang terjadi. Kondisi atau peristiwa yang sama bisa diterima dengan cara yang berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Bahkan kita sendiripun kadang merasakan perasaan yang berbeda untuk sebuah situasi atau peristiwa yang sama.

Contoh saat kita harus antri, seseorang mungkin bisa menjalaninya dengan tenang dan sabar, sementara orang lain menghadapinya dengan perasaan kesal dan gelisah. Atau di suatu waktu kita bisa berada di tengah antrian dengan tenang dan sabar, sementara di waktu yang lain kita merasa kesal dan gelisah. Padahal itu adalah situasi yang sama. Apa yang membuatnya berbeda? Cara kita merasakannya, meresponnya, bagaimana penilaian kita itu yang membedakannya.

Memang ada situasi, kondisi atau peristiwa yang umumnya akan membuat orang merasa bahagia. Misalnya saat bersama kekasih, mendapatkan kekayaan, menjadi juara, naik pangkat atau jabatan, berkumpul bersama keluarga, dan sebagainya. Tetapi itupun bukan merupakan jaminan bahwa kita akan merasa bahagia.

Jika kita berpikir bahwa hidup dalam kekayaan dan kemewahan adalah hidup yang bahagia,  banyak orang yang memiliki itu tetapi merasakan ketidakbahagiaan dalam hidupnya. Jika mengira bahwa menjadi orang yang terkenal dan dikagumi akan membuat kita bahagia, ternyata banyak tokoh terkenal yang harus menanggung derita ketidakbahagiaan.  Mengapa? Karena, kembali lagi, bahagia adalah soal rasa, soal bagaimana kita menerimanya, bukan soal apa yang kita temui atau punyai.

Anda putus cinta dan sekian lamanya anda tidak bisa move on, sehingga setiap hari perasaan anda dilanda kegalauan? Disitulah anda tidak merasakan kebahagiaan.

Anda seorang pekerja yang setelah bertahun-tahun lamanya tidak juga mendapat promosi kenaikan jabatan atau golongan, lalu sepanjang waktu anda bekerja sambil membawa perasaan kecewa dan marah pada perusahaan/instansi atau atasan anda? Anda tidak menemukan kebahagiaan, setidaknya di tempat kerja anda.

Anda hidup bertetangga, dan setiap hari anda merasa sakit hati melihat tetangga anda pulang-pergi dengan mobil barunya yang sudah kesekian kalinya berganti, sementara anda masih mengendarai motor tua anda? Anda kecewa dan marah pada keadaan, pada diri sendiri, atau sering menyalahkan orang lain karena hal itu? Bisakah anda merasakan kebahagiaan di sana?

Jadi yang menghalangi rasa bahagia atau kebahagiaan itu adalah penerimaan dan perasaan kita sendiri. Kita mungkin memiliki banyak hal yang tidak dimiliki orang lain, tetapi ketika kita menerimanya dengan perasaan negatif, maka itu semua tidak akan membahagiakan kita. Semua tergantung dari penerimaan kita, persepsi kita, sudut pandang kita, dan nilai-nilai yang ada pada diri kita.

Bagaimana Lebih Mudah Mencapai Kebahagiaan ?

Anda mungkin menyadari bahwa anda semestinya memiliki pola pikir yang positif.  Anda menyadari bahwa putus cinta itu adalah hal yang biasa terjadi dan ingin melanjutkan hidup anda dengan tanpa membawa beban rasa yang mengganggu hari-hari anda. Anda mungkin tahu bahwa berbagai persoalan, berbagai tantangan yang anda temui merupakan suatu kewajaran dalam perjalanan hidup dan ingin menghadapinya dengan tenang dan sabar. Anda sangat faham bahwa stress yang anda alami bisa berdampak negatif pada kesehatan dan kebahagiaan anda.

Anda sebenarnya menyadari semua itu, tetapi usaha-usaha yang anda lakukan kok sepertinya belum bisa membuat anda menjadi orang yang lebih mudah merasakan kebahagiaan? Mengapa ?

Mungkin anda tidak menyadari bahwa di dalam diri anda masih tersimpan luka masa lalu yang belum terobati hingga saat ini.  Mungkin anda tidak menyadari bahwa trauma mental di masa lalu telah menimbulkan kesan dan persepsi tersendiri yang mempengaruhi cara anda menilai kehidupan, keadaan, dan juga orang-orang.

Mungkin anda termasuk orang yang memiliki daya tahan yang kurang baik terhadap stress yang menjadikan anda begitu mudah terdampak stress, frustrasi dan bahkan depressi.

Mungkin di dalam diri anda ada mental block yang menjadikan anda seakan sulit sekali untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Atau mungkin juga di dalam diri anda ada part (bagian diri) yang saling bertentangan sehingga membuat anda sering dilanda kebingungan dan kegelisahan.

Ya….ada banyak kemungkinan yang dapat membuat anda menjadi orang yang lebih sulit merasakan bahagia, sulit mencapai kesuksesan, sulit melakukan perubahan diri menjadi lebih baik. Dan, repotnya lagi, itu semua ada di dalam pikiran bawah sadar anda yang karenanya sulit bagi anda untuk mengubah bahkan untuk menyadarinya.

Agar lebih mudah bagi anda untuk merasakan kebahagaiaan, maka anda dapat masuk ke dalam pikiran bawah sadar anda.  Di sana kita bisa memperbaiki program-program yang menghambat, mengobati luka hati, mengatasi trauma mental yang ada, mengubah sudut pandang, memperkuat daya tahan terhadap stress, mendamaikan part yang bertentangan, serta menanamkan program-program positif yang dapat membuat kitalebih mudah dalam mencapai kebahagiaan.