Perilaku Warisan Orangtua

Orangtua akan mewariskan sesuatu kepada anak-anaknya.  Entah itu dilakukan diam-diam atau secara terbuka, direncanakan (disiapkan) ataukah sebagai konsekuensi dari hubungan orangtua-anak, dalam bentuk harta, kekuasaan, atau bentuk-bentuk lainnya.

Umumnya seorang anak, terlepas dari bagaimana pewarisan itu terjadi, akan merasa senang mendapatkan warisan dari orangtuanya.  Tetapi bagaimana jika apa yang diwariskan itu adalah sesuatu yang buruk dan merugikan bagi si anak, misalnya emosional, sudut pandang, dan perilaku yang buruk ?

Perilaku Warisan Orangtua

meniru

Bisakah perilaku diwariskan (diturunkan) dari orangtua ?

Dari beberapa kasus anak berperilaku negatif yang saya tangani, saya menemukan kenyataan bahwa perilaku anak tersebut ternyata terkait erat dengan perilaku orangtuanya.

Memang bukan bahwa si anak memiliki perilaku yang sama persis dengan perilaku orangtuanya, atau saya tidak mengatakan bahwa perilaku si anak adalah perilaku yang diturunkan dari orangtuanya (melalui DNA, misalnya), tetapi saya menemukan kenyataan bahwa  perilaku negatif si anak sangat terkait dengan perilaku orangtuanya.  Perilaku terkait orangtua bisa berbentuk adanya perilaku anak dalam menghadapi suatu situasi emosional tertentu yang sangat dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya, baik yang berhubungan dengan si anak ataupun dengan yang lain.

Saya ambil contoh, misalnya, ada kasus di mana seorang anak lelaki yang bermasalah dengan kesenangannya terhadap game online sehingga hampir mengabaikan sama sekali tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar.  Si anak menjadi sangat malas belajar, kurang motivasi untuk mengikuti pendidikan formal, malas mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain game online.  Dari hasil observasi yang saya lakukan terhadap orangtuanya, saya menemukan bahwa ternyata orangtuanya (ayah) sebelumnya juga pernah mengalami hal yang sama yaitu “gila mancing”.

Ayah yang gila mancing ini terkadang sampai tidak pulang seharian, beberapa kali meninggalkan pekerjaan demi melakukan hobi memancingnya, bahkan seperti lebih mementingkan kegiatan memancingnya dibanding kegiatan bersama keluarga.  Memang itu masa lalunya dan sekarang si ayah sudah meninggalkan kegilaannya, tetapi si anak sempat mengalami situasi memiliki ayah yang seperti itu.  Si anak bahkan bercerita betapa dulu ayahnya sangat gila mancing.

Ketika kami tanyakan kepada si ayah apa yang membuatnya begitu gemar dengan kegiatan memancing sehingga seakan lupa segalanya ketika melakukan itu, jawabannya sangat sederhana, “Saya suka melakukannya.  Saya merasakan kesenangan dan seakan lupa dengan segala permasalahan yang tengah saya hadapi”.

Jawaban yang sama persis ketika kami menanyakan kepada si anak apa yang membuatnya gila game online, perasaan senang dan lepas dari segala beban yang ada.

Bukankah itu perilaku yang sama dalam kegiatan yang berbeda?  Apakah itu bukan perilaku yang diwariskan oleh orangtua kepada si anak ?

Perilaku Orangtua Membentuk Perilaku Anak

Saya ambil contoh lagi pada kasus perilaku negatif anak yang lain, dimana si anak memiliki kepercayaan diri yang rendah, menutup diri dan seakan tidak mampu menentukan suatu pilihan.  Saya menemukan bahwa perilaku si anak ternyata terbentuk oleh perilaku orangtuanya, atau lebih tepatnya bagaimana orangtuanya memperlakukan si anak.

Ternyata si anak pernah mengalami masa-masa dimana orangtuanya berperilaku sangat keras dalam mendidik.  Orangtuanya seakan tidak memberikan ruang kepada si anak untuk melakukan satu kesalahan saja.

Sifat seorang anak yang senang bereksplorasi dan kadang sedikit bandel (kebandelan anak-anak sebagaimana wajarnya anak-anak) akan dipandang sebagai kenakalan dan pembangkangan yang akan memicu kemarahan orangtuanya.  Satu kenakalan kecil saja (karena ketidak-tahuan atau ketidak pahaman) dari si anak sudah cukup untuk membuat orangtuanya menjatuhkan hukuman berupa teriakan, makian, cacian, dan tak jarang hukuman fisik yang menyakitkan. 

Kejadian yang sama berulang-ulang terjadi akhirnya membuat si anak selalu dilanda rasa takut, rasa bersalah, rasa tidak dicintai dan rasa tidak berharga.  Inilah yang kemudian pada akhirnya membentuk anak menjadi pribadi yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, cenderung menarik diri dari pergaulan dan selalu dilanda kebimbangan dalam mengambil suatu keputusan.  Saat wawancara, si anak juga menunjukkan sikap-sikap kemarahan yang mungkin didapat dari apa yang orangtuanya lakukan.  Terkadang bagaimana kemarahan itu diekspresikan itulah yang membedakannya.

Perilaku si anak dibentuk oleh perilaku orangtuanya.

Memang sangat disayangkan bahwa kurangnya pemahaman orangtua dalam cara mendidik anak akhirnya mewariskan sifat dan perilaku negatif terhadap anak di kemudian hari.  Tetapi dari contoh beberapa kasus anak, bahkan terjadi pada orang dewasa, kami menemukan bahwa sifat dan perilaku negatif itu adalah warisan atau karena bentukan dari orangtuanya.  Itulah sebabnya pada setiap kasus anak yang kami terima, kami selalu meminta agar kedua orangtuanya juga ikut berpartisipasi dan, jika perlu, juga ikut terapi.

Anda memiliki anak dengan masalah perilaku negatif ?  Ada baiknya jika anda terlebih dahulu melakukan introspeksi tentang bagaimana anda berperilaku di depan atau terhadap anak anda.

=======================================================================================

Bagi anda yang ingin :

  1. Menyelesaikan masalah yang terkait dengan penyakit hati / pikiran,
  2. Menyembuhkan penyakit psikosomatik,
  3. phobia,
  4. Melepaskan diri dari kecanduan atau ketergantungan
  5. Menanamkan keyakinan diri dan motivasi,
  6. Membangkitkan emangat hidup,
  7. Menghapus rasa sakit akan kenangan masa lalu (move on), dan lain-lain
  8. Mempelajari keilmuan hipnotis dan hipnoterapi
  9. Memperdalam keilmuan hipnotis dan hipnoterapi

Anda dapat menghubungi kami melalui :

  • Call / SMS : 0822-9957-4948
  • Line / Whatsapp : 0812-4945-5398
  • Blackberry Messenger (BBM) : 76456D88
  • E-mail : mohtoha70@yahoo.com